WHAT'S NEW?
Loading...

Cara Bersyukur: menjadi akuntan yang handal dalam menghitung nikmat




Akuntan yang paling handal – mentari mendekap bumi dengan cahayanya yang masih hangat saat banyak orang berpakaian muslim memasuki halaman masjid. Dari luar masjid, tampak sederhana saja, hanya ada jalan raya yang ramai dengan ingar bingarnya. Setelah memasuki halaman masjid dan memarkir kendaraan, terasa jelas perbedaannya dengan suasana luar. Yah, di halaman masjid, ada banyak orang, sebut saja penuntut ilmu yang hilir mudik. Ada kesesejukan tersendiri saat melihat suasana seperti itu. Banyak wanita dengan jilbab panjang berjalan bergerombol menuju lantai dasar masjid. Aku mafhum, sebagian besar dari mereka pastilah orang-orang sholih yang rela menghabiskan waktu berliburnya dengan menghadiri taman-taman syurga, yaph.. sebut saja demikian, nama yang sering kudengar dari mutarobbi semasa SMA dulu. Taman-taman syurga beliau sematkan untuk menyebut sebuah majelis ilmu agama karena malaikat sedang berkumpul dan mendo’akan orang-orang yang menuntut ilmu serta menjadikannya sebuah majelis dengan penuh ketentraman dan kedamaian dimana hanya orang-orang tertentulah yang mampu datang dan meluangkan waktu untuk itu. Majelis ilmu yang aku ikuti kali ini adalah tablig akbar dengan tema “ketika ilmu tak seindah ahlak”

Di majelis ilmu ini, Jemaah laki-laki dan perempuan dipisahkan pada tempat yang berbebeda. Jemaah laki-laki menempati lantai dua sementara Jemaah perempuan menempati lantai dasar. Udstaz yang membawa acara kali ini adalah udstaz Oumar Mita, LC. Beliau berada di lantai 2 membawakan tausiah sementara para perempuan (baca akhwat) mendengarkan di lantai dasar dengan bantuan 2 buah layar yang mirip televisi. Acara pun dimulai oleh MC lalu mempersilahkan udztaz untuk menyampaikan tausiah. Beliau memulai dengan salam lalu membahas mengenai dua sifat manusia yakni: 1) suka menghitung-hitung musibah/ujian. Beliau lalu menyebut manusia sebagai akuntan akuntan yang paling handal untuk menghitung-hitung musibah, ujian atau hal buruk yang menimpanya dan selalu mengingat hal-hal tersebut. 2) suka melupakan nikmat Allah SWT.
Yah, memang benar manusia adalah akuntan yang paling handal dalam hal menghitung-hitung keburukan dan selalu mengingatnya sementara manusia selalu lupa akan hal-hal yang baik dan nikmat Allah SWT kepadanya, aku akui aku pun sering seperti itu.

Seketika, banyak hal-hal yang kuanggap buruk berkelebat dan menghaparkan tikarnya dalam pikiranku. Memang benar, hal-hal buruk itu selalu teringat dan selalu aku hitung sebagai hal yang tidak adil. Kejelekan orang lain, kata-kata buruknya, kelakuannya dan berbagai hal buruk yang orang lain pernah lakukan terhadapku. Aku selalu mengingatnya. Kalimat “manusia adalah akuntan yang paling handal dalam menghitung keburukan orang lain” seakan memberikan cambuk bagi apa yang selama ini kulakukan, akan apa yang selama ini selalu menghabiskan energi pikiranku dan berhasil merenggut rasa bahagia dariku karena satu hal itu, selalu berkubang dalam dendam, dalam ingatan tentang keburukan dan ketidakadilan orang lain. Maka kemudian sang udztaz seakan mengetuk palu untuk memberikan solusi akan kesalahanku dengan mengatakan “jadilah akuntan yang paling handal dalam menghitung nikmat Allah STW dan jadilah orang yang su’uzon kepada diri sendiri namun husnuzon kepada orang lain”

Ya, memang benar. Kita sering menganggap benar diri sendiri dan menghakimi orang lain dengan berbagai persangkaan buruk. Kita diibaratkan jeli melihat seekor semut di seberang nun jauh di sana namun tak mampu melihat gajah yang ada dihadapan kita. Tak mampu melihat kesalahan diri sendiri namun sangat jeli melihat kesalahan orang lain.


Jadilah akuntan yang paling handal untuk menghitung nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wata’ala dengan memperbanyak rasa syukur atas apa yang diberikan-Nya. Menurut penelitian, rasa syukur dapat menambah kebahagiaan fisik dan mental. Kebiasaan hidup yang tidak disertai dengan rasa syukur akan membuat seseorang tidak bisa menikmati hidup ini dengan kebahagiaan. Kufur nikmat menjadi pembatas antara ia dengan kebahagiaannya. Kembali lagi kepada istilah ‘bahagia itu pilihan, bukan kesempatan’ maka pilihlah menjadi manusia yang bahagia dengan cara bersyukur atas apa yang kita miliki. Mengeluh karena ada masalah? Banyak orang di luar sana yang mungkin masalahnya jauh lebih besar daripada masalah yang kamu miliki. Mengeluh karena keluarga yang membuatmu marah atau teman yang membuatmu kesal? Pikirkanlah orang lain yang bahkan mungkin tidak punya siapa pun untuk dijadikan sandaran. Atau mungkin, tidak bersyukur karena bentuk fisik yang menurut kamu ‘kurang’ bagus? Itu adalah sesuatu yang bahkan tak pantas disebut masalah. Lihatlah mereka yang bahkan tidak memiliki fisik yang lengkap. Bahagia itu pilihan dan pilihlah menjadi orang yang bahagia dengan memperbanyak rasa syukur.
Lalu, bagaimana cara bersyukur dan menjadi orang yang bahagia?

1.    Selalu mengingat Allah
Cara pertama sekaligus yang paling mudah bagi seorang hamba untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala yaitu dengan senantiasa memuji Allah di dalam hatinya. Selalu mengingat Allah kapanpun dan dimanapun ia berada. Sejatinya, kita harus menyadari bahwa diri kita ini Allah yang menciptakan. Alam semesta nan indah, udara yang kita hirup, makan-makanan baik dari tumbuhan atau hewan, serta orang-orang disekitar kita yang sayang dengan kita, semua adalah nikmat dari Allah Subhanahu wa ta’aala. Oleh sebab itu, jagalah hati kita setiap detik untuk mengingat kebesaran-Nya.

2.    Mulailah bersyukur di pagi hari
Oke, ketika ingin menjadi bahagia, mulailah dengan memperbaiki pagi hari. Pagi yang baik akan menjadikan hari menjadi baik pula. Renungkanlah sejenak dan ucapkalah rasa syukur karena kamu masih diberikan tambahan satu hari lagi untuk bernapas. Mulailah harimu tanpa direcoki dengan daki-daki penyesalan akan hari kemarin yang berlebihan, karena harimu adalah hari ini, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala keburukannya. Kita hanya perlu menjadikannya cermin untuk melangkah di hari ini dengan menjadikannya sebagai pelajaran dan tidak mengulanginya kembali.

3.    Sebisa mungkin menjauhi penyakit-penyakit hati
Seperti apa penyakit hati itu? Yaitu hal-hal yang bisa merusak hatimu seperti rasa iri, dengki dan tidak menerima apa yang dimiliki. Istilah ‘kehidupan orang lain jauh lebih indah’ dapat menjadi perusak jika terus menerus digaungkan dalam kehidupan kita. Ingatlah, taka da manusia yang sempurna begitu pula dengan kehidupannya. Masing-masing orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Mengapa kita tidak merubah kalimat tersebut dengan kalimat ‘hidupku tidak kalah indah’. Dengan begitu, kita tidak melulu memandang orang lain ‘jauh lebih beruntung’ karena bisa jadi mereka juga memiliki masalah, hanya saja mereka mampu menyembunyikannya. Cobalah memandang sesuatu tidak hanya dari satu sudut pandang.

4.    Meningkatkan ketaqwaan
Bersyukur tidak hanya dilakukan lewat hati dan lisan saja, namun hendaknya juga diwujudkan lewat perbuatan. Salah satunya dengan cara menjadi pribadi yang bertaqwa. Menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Misalnya dengan taat menjaga sholat lima waktu, melaksanakan zakar fitrah, membaca Al-quran, menjalani puasa ramadhan dan mejauhi hal-hal yang berbau maksiat dan tercela.

Demikianlah ulasan penulis tentang manusia sebagai akuntan yang paling handal dalam menghitung keburukan yang dapat dihindari atau diobati dengan pil syukur akan nikmat-nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala. Semoga apa yang penulis paparkan dapat membah khazanah kita semua dan bermanfaat untuk diamalkan dalam kehidupan. Ilmu akan menebarkan wanginya jika diamalkan. Mari berlomba dalam kebaikan!

Hakikat Kehidupan



“Hidup itu seperti UAP yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap!”

Kalimat tersebut saya kutip dari puisi terakhir WS Rendra. Yah, memang benar, hidup ini bisa diumpamakan seperti uap, dianugrahkan kepada setiap kita lalu lenyap layaknya sebuah titipan yang bisa diambil kapan saja oleh pemiliknya. Tapi, bukankah kita layak bertanya mengapa hidup itu ditipkan kepada kita?

Resiko memiliki adalah tidak memiliki. Resiko hidup adalah mati. Resiko berharap adalah kecewa. Setiap bagian yang menyenangkan dari hidup ini memiliki resiko. Ketika kita hidup maka resikonya adalah mati. Satu contoh yang dapat memberikan gambaran penuh tentang kehidupan itu adalah kematian.

Tak ada yang tahu kapan kematian merenggut kehidupan yang dimiliki dan ketika kematian itu tiba, maka tak ada yang dapat menghalaunya, tanpa pandang bulu menyapu bersih semua hak kita dalam kehidupan itu sendiri. Tak ada lagi desah nafas, tak ada lagi senyut jantung, mata tak dapat melihat, telinga tak dapat mendengar. Lalu, apa yang kita banggakan dalam hidup ini?

Hello guys, ingat bahwa semua ini hanyalah titipan. Berbangga-bangga terhadap apa yang kita miliki hanyalah menunjukan bahwa kita ini adalah peminjam yang tidak tahu diri – memalukan. tergenggam dan terlepas, seperti itulah kehidupan. Sebenarnya tak ada yang kita miliki, semuanya titipan.  sebentar saja kita menggenggam lalu jika saatnya tiba, kkehidupan itu akan terlepas dan diambil oleh Yang Maha Hidup. Lalu, mengapa tuhan menitipkan semua ini untuk kita? Jawabannya ada pada hati kita.

Hati adalah detektor terbaik dalam menemukan apa yang sebenarnya diinginkan kehidupan ini. Ketika kita melakukan sebuah kebaikan, apa yang dirasakan hati? Dan ketika kita melakukan keburukan, apa pula yang dikatakan hati kita? Yah, hati kita tentu akan merasa tenang, tentram, damai ketika kita melakukan sebuah kebaikan, dan sebaliknya akan merasa terpuruk, sedih dan galau ketika melakukan sebuah keburukan, seburuk apapun seseorang. Lalu kira-kira apa kaitannya dengan tujuan hidup ini? Pada dasarnya kita dititipkan kehidupan untuk sesuatu yang baik, yakni untuk mengemban tugas sebagai khalifah. Apa itu khalifah? Yakni orang yang mengadakan perbaikan di muka bumi. Kita dititipkan kehidupan ini untuk menjadikan hidup itu lebih baik. Ingat, resiko hidup adalah mati dan tak akan ada apa pun yang kita miliki setelah mati kecuali satu hal, yakni amal. Keluarga, sahabat dan harta kekayaan tidak akan ikut bersama kita. Semua itu hanya sebagai penghias hidup dan sebagai orang yang bijak, sebaiknya kita tidak memperlakukannya layaknya tuhan, seakan-akan hidup ini hanya untuk mengejar penghias-penghias kehidupan itu. Sadarlah!

Gadget untuk Anak-Anak, Perlukah?





Sumber gambar : vemale.com


Di zaman dengan perkembangan teknologi yang pesat ini, gadget menjadi sesuatu yang tidak asing lagi bagi masyarakat, mulai dari kalangan muda hingga kalangan tua. Gadget merupakan salah satu produk teknologi yang menjadi barang yang lumrah digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang komunikasi. Tidak hanya itu, selain sebagai alat komunikasi, gadget juga memiliki fungsi lain sesuai dengan fitur yang disediakannya, misalnya saja sebagai alat hiburan, edukasi dan berbagai fitur untuk pemenuhan kebutuhan lainnya.

Banyaknya fitur yang tersedia pada gadget membuatnya digandrungi oleh para pengguna. Bahkan bagi sebagian orang, gadget merupakan alat yang sangat penting dalam berbagai aktivitas yang dilakukan. Dari sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kecenderungan banyak orang dalam penggunaan gadget, diketahui bahwa rata-rata seseorang tidak akan tahan duduk menunggu tanpa melakukan sesuatu dan dalam waktu menunggu tersebut ketika merasa bosan, rata-rata orang akan menggunakan gadget untuk membunuh rasa bosan.

Gadget atau istilah umumnya disebut handphone, digunakan sebagai sarana komunikasi. Berbagai fitur yang tersedia membuat banyak orang sering melakukan kontak dengan benda yang satu ini tidak terkecuali bagi kalangan anak-anak. Gadget memiliki banyak dampak positif dari berbagai fitur yang disediakannya. Bagi anak-anak, gadget dapat digunakan sebagai sarana edukasi. Banyaknya aplikasi yang mudah diakses menggunakan gadget, membuat anak-anak senang menggunakannya, misalnya saja aplikasi untuk belajar berhitung. Tidak hanya melalui aplikasi, gadget juga dapat memberikan edukasi lewat browser yang mudah digunakan untuk mengunjungi situs-situs penyedia konten edukasi, buku elektronik dan gambar-gambar yang mendidik.

Bagaikan dua sisi mata koin, selain sisi positif, penggunaan gadget juga mengandung sisi negatif. Sebagaimana adanya fitur positif, pada gadget juga terdapat fitur-fitur dengan konten negatif yang menjamur. Misalnya saja pada mesin pencari. Anak-anak dapat dengan mudah terpengaruh dan mengakses konten-konten negatif seperti kekerasan dan pornografi. Gadget sebagai alat komunikasi juga menyediakan banyak jalur untuk mengakses berbagai media sosial. Sesuai namanya, media sosial merupakan sarana atau perantara dimana banyak orang melakukan interaksi lewat dunia maya. Anak-anak dapat dengan mudah menggunakannya dan dapat berinteraksi dengan berbagai orang pada media sosial tersebut dan dalam hal ini dapat terjadi interaksi yang mengaburkan batas-batas usia dan latar belakang. Tanpa ada filter yang baik, anak-anak dapat dengan mudah menyerap semua apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar. Jika mereka sering menyaksikan konten negatif, maka bak tanah gersang yang tertimpa hujan, mereka langsung menyerap apa yang mereka peroleh dan terpengaruh konten negatif tersebut.

Melirik langkah para orangtua kita saat mereka kecil, mereka cenderung hidup lebih sehat dan lebih peka terhadap lingkungan tanpa adanya pengaruh gadget yang mendominasi waktu mereka. Interaksi yang mereka lakukan kebanyakan melalui face to face sehingga mereka cenderung memiliki kepekaan sosial. Hal tersebut sudah mulai jarang ditemui pada anak-anak masa kini. Mereka mengalami guncangan akan perkembangan teknologi dengan tanggapan yang seringkali tidak proporsional alias berlebihan. Permainan tradisional sudah bergeser dan tergantikan dengan mainan canggih dari gadget, game online maupun offline yang terkadang menimbulkan adiksi dan menghabiskan sebagian besar waktu anak-anak. Bermain itu memang perlu, namun dengan perlu kontrol dan sesuai proporsi agar terdapt pula waktu lain untuk belajar atau pun berkumpul dengan keluarga dan teman-teman secara langsung tanpa sekat gadget yang mendominasi.

Anak-anak berada pada rentang usia yang butuh pengawasan dan bimbingan untuk berbagai hal yang mereka lakukan, termasuk dalam hal penggunaan gadget. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan terhadap anak dalam penggunaan gadget. Tidak perlu dilarang tetapi cukup dibatasi dan diawasi. Walau bagaimanapun, mereka tetap butuh mengenal teknologi agar tidak tertinggal oleh zamannya. Dalam hal ini, peran berbagai pihak sangatlah diperlukan seperti orangtua, pendidik dan masyarakat luas agak bersama-sama memberikan pengawasan terhadap generasi penerus bangsa ini.

Tak perlu bermain benar atau salah, pilihan untuk perlunya penggunaan gadget untuk anak-anak dikembalikan kepada orangtua sebagai fasilitator, bergantung pada kebutuhan dan alasan pentingnya penggunaan gadget. Namun, bila telah memutuskan untuk memfasilitasi gadget untuk anak, orangtua harus memastikan selalu memberi pengawasan dan kontrol dalam penggunaan gadget tersebut agar sesuai dengan tujuan penggunaan yang semestinya. Perkembangan anak ada di tangan orangtua dan didukung oleh pendidik dan masyarakat luas.



ditulis di Gowa, 08 Juli 2018

STAGNANSI DANA DESA



Dana Desa Tetap di tahun 2018 Setujukah Anda?


sumber gambar : pikiranrakyat.com


Pemerintah memiliki strategi yang bertujuan agar terjadi penurunan ketimpangan (gini rasio) antara wilayah perkotaan dan desa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan pengucuran dana untuk desa. Hal tersebut dimulai dengan adanya komitmen untuk membangun negeri dari desa. Dimana diketahui bersama bahwa selama ini desa diidentikkan sebagai tempat terjadinya banyak ketimpangan jika dibandingkan dengan kawasan perkotaan dalam bidang ekonomi, sosial dan pendidikan. Sehingga, dalam menggiring penyelesaian ketimpangan tersebut, pemerintah mengucurkan dana desa dengan jumlah yang tidak sedikit. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo mengatakan bahwa sejak empat tahun terakhir, pemerintah telah mengucurkan dana dari pusat kepada daerah sebesar Rp. 721,1 triliun.

Faktanya, masih banyak terjadi masalah dalam penggunaan dana desa yang dilakukan di berbagai daerah. Masalah yang marak terjadi adalah adanya penyelewengan anggaran yang dilakukan pemerintah desa serta kurangnya pengoptimalisasian dalam penggunaan dana desa. Padahal, pemerintah telah mengupayakan peningkatan dana yang masuk ke desa sejak tahun 2015. Melihat fakta tersebut, pemerintah mengambil inisiatif untuk menjadikan dana desa tetap (stagnan) di tahun 2018 ini. Imbas dari stagnansi tersebut adalah adanya pro dan kontra terhadap keputusan pemerintah.

Anggota Badan Anggaran DPR RI, Hetifah Saifudia mengkritisi kebijakan tersebut dengan mengatakan bahwa pemerintah harus tetap meningkatkan dana desa sesuai dengan komitmen awal untuk membangun dari desa meskipun banyak terjadi penyelewengan dalam pemanfaatan dana desa tersebut. Sedangkan menurut Wakil Ketua MPR RI Mahyudin, bahwa penyelewengan dana desa dapat diminimalisir dengan pengawasan yang ketat salah satu cara dapat dilakukan yakni menetapkan aturan yang ketat dalam pelaporan keuangan atas penggunaan dana yang masuk ke desa.

Menurut hemat penulis, stagnansi dana desa dapat dipandang sebagai sesuatu yang baik jika dibarengi dengan pengoptimalisasian penggunaan dana desa yang ada. Bukan soal seberapa dana yang ada, tetapi tentang sejauh mana dana desa tersebut berdampak terhadap pembangunan ekonomi, sosial dan pendidikan di desa lewat berbagai program yang telah dicanangkan pemerintah daerah dan program kebutuhan masing-masing desa.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan salah satunya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di desa. Misalnya saja, dalam bidang pembangunan infrastruktur desa, bisa diterapkan swakelola sesuai dengan anjuran pemerintah pusat dengan melibatkan warga setempat sebagai pekerja sehingga dapat meminimalisir angka pengangguran dan mungkin dapat berdampak pada perolehan ekonomi warga setempat. Selain itu, perlu penggemblengan swadaya masyarakat dengan meningkatkan kemampuan warga setempat melalui berbagai pelatihan yang memiliki output nyata bagi pengembangan potensi masyarakat. Pelatihan yang dimaksud adalah pelatihan yang bersifat membangun, bukan hanya berjalan lalu selesai tanpa menghasilkan apa-apa, sehingga hal tersebut akan memiliki efek jangka panjang bagi masyarakat setempat.

Dalam melakukan kebijakan di atas tentu perlu dukungan dari berbagai stakeholder mulai dari pemerintah kabupaten hingga pemerintah desa yang betul-betul menjalankan visi untuk membangun desa sesuai cita-cita utama pengucuran dana desa. Menjadi salah satu penggerak kemajuan bangsa dari lingkup yang kecil seperti desa bukan dipandang sebagai sesuatu yang tidak mungkin, dapat merubah bangsa ini menjadi lebih baik. Mari menjadi warga negara yang baik dengan bersama-sama mengawas dana desa agar sesuai dengan jalur yang ditentukan.


Gowa, 11 Juli 2018

Bagaimana Kiat untuk Meraih Kebahagiaan Hidup?




Seperti biasa, dalam sehari saya biasanya menyediakan waktu khusus untuk membaca. Ada beberapa Genre buku yang senang saya baca, seperti buku bergenre fiksi (novel dan puisi) serta buku bergenre motivasi. Salah satu buku yang saya baca hari ini adalah buku yang berjudul "Jadilah Wanita yang Paling Bahagia" Karya Dr. 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni. Yang pernah baca buku Laa Tahzan pasti tidak asing dengan nama ini. Yah, beliau adalah penulis yang sama yang menulis buku Laa Tahzan. Seperti buku "Laa Tahzan", buku "Jadilah Wanita yang Paling Bahagia" adalah buku recommended untuk dibaca

Kembali ke topik utama, Bagaimana kiat untuk meraih kebagaiaan hidup? dalam buku ini dijelaskan:

Seorang pakar Psikologi bernama D. Dikcs mengatakan bahwa kehidupan yang bahagia adalah seni yang indah. Beliau mempunyai 10 kiat untuk meraih kebahagiaan hidup. Apa saja?

Pertama, biasakan diri melakukan pekerjaan yang disukai. Jika pekerjaan itu tidak mudah dilakukan, isilah waktu-waktu senggang untuk menyalurkan hobi yang paling disukai, kemudian dalamilah ia.

Kedua, perhatikanlah kesehatan fisik, karena sesungguhnya kesehatan fisik adalah jiwa kebahagiaan, yaitu dengan mengatur pola makan dan minum tanpa berlebihan, membiasakan olahraga dan menjauhi kebiasaan buruk dan merugikan.

Ketiga, hendaklah mempunyai sasaran dalam hidup ini, karena dengan memiliki sasaran, maka akan membangkitkan semangat dan gairah hidup.

Keempat, Jalanilah hidup menurut apa adanya dan terimalah segala sesuatunya, baik yang manis maupun yang pahit, dengan hati yang lapang.

Kelima, Hayati hidup yang sedang dijalani, jangan menyesali hal yang sudah berlalu, jangan pula memusingkan hari esok yang belum tiba, karena kita hidup di hari ini dan hendaknya kita memaksimalkan perhatian untuk hari ini.

Keenam, gunakanlah pikiran Anda untuk sebelum melakukan pekerjaan apa pun atau keputusan apa pun, agar kelak tidak mencela orang lain atas keputusan Anda dan apa yang bakal diperoleh akibat keputusan tersebut.

Ketujuh, senantiasalah memandang orang yang berada di bawah Anda sehingga timbul rasa mensyukuri atas apa yang telah dimiliki dan betapa beruntungnya kita dalam hidup ini.

Kedelapan, biasakanlah diri untuk murah senyum, berjiwa periang, dan berteman dengan orang-orang yang optimistis.

Kesembilan, Hendaklah Anda berbuat untuk membahagiakan orang lain agar beroleh harumnya kebahagiaan.

Kesepuluh, pergunakanlah berbagai kesempatan yang cerah lagi indah dan anggaplah itu sebagai terminal keharusan bagi kebahagiaan.

Demikian yang kiat untuk meraih kebagahagiaan hidup. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Selamat menjadi individu yang berbahagia :)



Sumber:
Dr. 'Aidh bin 'Abdullah Al-Qarni. Jadilah Wanita yang Paling Bahagia. 2017. Jakarta: Fathan Media Prima.

untuk Apa Menulis dan Bagaimana Cara Mudah Menulis Cerita?




Untuk apa menulis?

Pertanyaan ini seringkali dilontarkan oleh banyak orang. Bahkan aku juga pernah melontarkannya, tapi itu dulu saat aku belum mengerti tentang dunia menulis yang sejatinya sekarang menjadi sesuatu yang sangat aku senangi. Bisa dibilang, menulis adalah hobiku. Terus untuk apa menulis? menulis salah satunya untuk menyalurkan apa yang ada di dalam fikiran kita dalam bentuk yang lebih nyata – tulisan. Dulu, sewaktu di bangku SMA saya sering menulis hal-hal yang hanya berkaitan dengan keseharian, mirip catatan diary. Lama kelamaan, seiring berjalannya waktu kebiasaan itu mulai berganti, mulai dari hanya sekedar menuliskan pengalaman harian, sampai pada taraf dimana saya senang menuliskan apa saja yang saya anggap menarik dari hasil menyimak berbagai sumber seperti buku, internet, TV atau bahkan dari hasil mengamati kebiasaan-kebiasaan orang lain yang saya anggap menarik dan layak untuk dibahas lebih mendalam dan bisa dipetik manfaatnya.

Menghabiskan waktu dengan menulis akan membawa kepuasan tersendiri, apalagi saat kita membaca kembali tulisan yang sudah kita buat. Untuk itu, saya pribadi suka menghabiskan waktu luang dengan menulis apa saja dan menuangkannya salah satunya dalam bentuk jurnal harian. Teman-teman bisa menyebutnya diary, tapi bagi saya pribadi lebih suka menyebutnya jurnal harian. Sebenarnya, saya belum terlalu tahu banyak hal tentang menulis, hanya sebatas menyalurkan apa yang ada di pikiran, baik dalam bentuk fiksi seperti puisi maupun dalam bentuk artikel. Namun, saya rasa tidak ada salahnya berbagi sesuatu yang diketahui, meskipun itu baru secuil.

Bagaimana Cara Agar Kita Mudah Menulis Cerita?

Seperti keadaanku dulu, pertanyaan ini terlontar hanya bagi mereka yang tidak senang membaca. Terus, apa kaitan antara membaca dengan hobi menulis? Keduanya memiliki kaitan yang erat. Orang yang senang membaca juga akan senang menulis. Loh, kok bisa? Orang yang gemar membaca akan mempunyai banyak hal di dalam pikirannya dan tentunya hal-hal itu disalurkan lewat tulisan. Dengan lebih banyak membaca maka keinginan untuk menulis juga semakin kuat. Jadi, untuk menulis hal pertama yang harus dilakukan adalah tahu dulu apa yang akan kita tulis. Hal yang sangat membantu adalah dengan banyak membaca. Hal kedua yakni lakukan! Tak perlu takut akan hasil yang mungkin kurang bagus, setidaknya kita melakukannya dan membiasakan diri dengan menulis. seperti istilah dalam bahasa Inggris yang sering saya baca "Practice makes Perfect". Bisa karena terbiasa. Silahkan tulis apa yang ada di pikiran kita. Kalo saya pribadi, setiap kali terpikirkan akan sesuatu yang bagus untuk ditulis, maka seketika saya menuliskannya di handphone atau pada sebuah buku catatan kecil. Karena apa yang ada dalam pikiran dapat dengan mudah terlupa apabila tidak dituliskan, maka ikat ia dengan tulisan. Menulis saja apa yang perlu dituliskan, untuk bagian bagus atau tidaknya nanti dikoreksi setelah kita menulis. Terakhir, publikasikan jika kalian rasa itu adalah sesuatu yang bermanfaat dan bukan sesuatu yang salah untuk diumbar.

Saya termotivasi untuk membuat tulisan ini setelah mereview tulisan-tulisan pada jurnal harian yang tersimpan di laptop. Berikut contoh jurnal harian yang sudah saya tulis.


SELASA, 1 AGUSTUS 2017
19.02 a.m
TIDAK BISA MEMBACA YAH? – kode keras! Yaph, itulah kata yang tertuliskan pada selembar kertas dan ditindih batu agar tidak terhempas angin yang diletakkan di atas jok motorku. Terkejut rasanya saat melihat dan membaca kata-kata tersebut. Untuk pertama kalinya mendapatkan teguran seperti ini. Betapa tidak, teguran itu dilontarkan karena memarkir motor di tempat yang bukan semestinya, di parkiran khusus pegawai kampus. Yah, memang salahku sendiri, sudah tahu di larang masih saja melanggar. Tapi ini baru kali pertama aku memarkirkan motor di tempat terlarang ini. Yang pertama dan mengakhirkan.
Beberapa jam sebelum kejadian tersebut, selepas sholat duhur di masjid, aku melihat parkiran untuk mahasiswa mulai terpapar sinar matahari siang, dengan mengandalkan kanopi pohon mangga yang tidak seberapa lebar, hanya beberapa motor yang berhasil terlindung dan sebagian besar terpapar terik matahari, termasuk motorku. Lokasi parkiran yang padat akan kendaraan dan tidak terlindung dari matahari membuatku mencari parkiran lain yang sedikit teduh. Setelah melihat sekeliling, tak kujumpai tempat yang memenuhi kriteria tersebut selain satu tempat yang terlarang untuk mahasiswa. Yaph…  parkiran pegawai kampus. Teman-teman yang sebelumnya beriringan denganku mulai menyarankan untuk memarkir kendaraan di tempat tersebut. Awalnya aku enggan untuk melanggar peraturan. Tapi setelah mempertimbangkan saran tersebut, akhirnya ku parkirkan kendaraan di tempat tersebut dengan dalih, sebelumnya juga banyak mahasiswa yang melanggar dan tidak mendapat teguran. Walhasil, bak tetesan embun ternyata teguran tersebut memilih daunku untuk mendarat.
Dari kejadian ini aku mulai memperhatikan beberapa ketidakadilan. Karena melalui peristiwa ‘merasakan’ maka seseorang akan tau bagaimana suatu hal dengan lebih real. Termasuk ketimpangan peraturan yang tidak pada tempatnya. Untuk pegawai kampus disiapkan parkiran yang bagus dan terlindung dari terik matahari dengan wilayah yang cukup luas. Sementara untuk mahasiswa, daerah yang terlindung dari terik matahari hanyalah sedikit, dan selebihnya kendaraan-kendaraan mereka menantang terik matahari dengan gagahnya, dengan resiko ban mudah bocor atau body kendaraan yang warnanya melegam karena sering terjemur terik matahari. Selain itu, mereka harus pintar-pintar mencari lokasi yang bagus di tengah tumpukan kendaraan dengan jumlah yang ribuan. Kontras dengan lokasi parkiran pegawai kampus yang lengang karena jumlahnya yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa. Berdasarkan prinsip kata ‘adil’, memang benar adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Pegawai memang derajatnya lebih tinggi dari mahasiswa, dan memang lantas tidak diperlakukan sama. Tapi, bukankah mahasiswa juga perlu dipertimbangkan kebaikan untuknya? Apa boleh buat. Peraturan tetaplah peraturan. Karena pemegang tahta tertinggi di kampus adalah pegawai-pegawai dengan berbagai tingkatan kastanya dan mahasiswa sebagai rakyat jelata. Dua kata untuk mahasiwa, tunduk atau ditindak!

RABU, 02 AGUSTUS 2017
MELAKUKAN YANG TERBAIK – ketika berhadapan dengan momen tersulitmu, maka pikirkan matang-matang. Gunakan segenap kemampuan untuk menghadapinya. Jangan hanya menimbang pada sisi emosi, melainkan timbang juga pada sisi nurani. Pahami, di balik semua yang terjadi ada hikmah yang mungkin saja tersembunyi. Seburuk apa pun covernya, mau remuk, gepeng, hancur atau apa pun namanya, semuanya pasti memiliki hikmah.
Perilaku manusia tidak akan pernah lepas dari pro dan kontra. Ada yang setuju atau bahkan memuji tapi tak jarang pulang ada yang menolak atau membenci bahkan memaki. Kita, sebagai aktor atau pelaku tak lantas harus mengikuti semua itu. Karena jika demikian, perilaku kita layaknya cermin ketidakpastian yang hanya memancarkan apa yang dikatakan orang lain. Menjadi orang yang tidak berintegritas. Tidak konsisten!
Pandangan orang lain tentang diri kita akan terbentuk secara otomatis. Tidak apa-apa. Itu hak mereka. Mereka yang punya pikiran lantas merekalah penguasanya. Kita tidak punya banyak waktu untuk membentuk opini semua orang agar menjadi baik. Karena tidak usah menjadi yang terbaik di mata orang lain. Cukup lakukan yang terbaik yang kau anggap baik tentunya dengan pertimbangan benar atau salah. Karena baik buruk adalah persepsi sedangkan benar dan salah adalah sesuatu yang hakiki!

KAMIS, 3 AGUSTUS 2017
KRITIK YANG MENGHIDUPKAN – suasana siang yang cukup terik di luar sana sementara aku bersama seorang teman sedang menyusuri tangga di fakultas Keguruan untuk menuju lantai dua tempat ruang dosen dan petinggi fakultas berada. Tangga demi anak tangga kami susuri dengan sedikit perbincangan kecil mengenai tahap penyelesaian yang sedang kami jalani sebagai mahasiswa tingkat akhir. Kami bertukar cerita mengenai kesulitan yang kami alami. Tiba kesempatanku untuk bercerita. Maka kuceritakan kejadian pagi menjelang siang tadi dengan ringkas. Kejadian yang menyentil sedikit emosiku karena merasa tidak terima. Betapa tidak, kejadian yang kumaksud adalah ujian komprehensif dan berhadapan seorang dosen yang kurang punya kontrol lisan yang baik, dengan suara berat yang khas serta bernada tinggi. Saat ujian, yang aku sendiri merasa heran mengapa semua persiapan yang sudah kusiapkan tiba-tiba hanya bercokol dalam pikiran tanpa mampu kusampaikan dengan baik. Alhasil, beberapa cemohan yang kuanggap cukup kasar mengudara. BODOH adalah kata yang paling kuat merekat dalam ingatanku. Masih banyak kata lain yang lebih kasar. Tapi, kata bodoh adalah kata yang paling tidak bisa kuterima. Menurutku, pada dasarnya tidak ada orang bodoh. Yang ada hanyalah orang yang kurang giat belajar dan mengasah kognitifnya. Lagi pula, aspek kognitif hanya bagian dispersif dari aspek kemampuan peserta didik pada umumnya. Masih ada aspek psikomotorik dan aspek afektif. Dan kurang tahu dalam aspek kognitif bukanlah hal yang bodoh. Bisa saja seseorang memiliki kecerdasan tapi bukan pada aspek kognitif tingkatan 1 yang bermodalkan ingatan. Banyak orang yang kurang kuat ingatannya tetapi sangat mampu di tingkat analisis dan sintesis. Bertolak pada multiple intelligence, maka dapat dipahami bahwa dominansi kecerdasan seseorang berbeda-beda. Dan kuakui, ingatanku sangatlah lemah, untuk menghapalkan nama, angka atau defenisi-defenisi aku sangatlah payah. Selain itu, aku bukanlah orang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang mumpuni. Sehingga ketika dihadapkan pada dialog dengan orang lain terkhusus orang yang baru aku kenal, maka jujur, aku bukanlah orang yang bisa diandalkan.
Saat ujian yang hanya mengedapankan tes aspek kognitif tingkatan 1 yakni ujian yang bermodalkan ingatan, maka akan butuh tenaga ekstra untuk mempersiapkannya di tengah kesibukanku saat ini. Terlebih saat menyampaikannya, butuh banyak nyali untuk mendobrak kecerdasan interpersonalku yang sangat minim. Maka kuakui, aku kalah hari ini!
Tidak apa-apa, mungkin itu adalah salah satu cara untuk membelajarkanku. Selama ini, yang ada hanyalah kemudahan. Mungkin bagian sulitku ada di ujian ini. Kan kuanggap itu sebagai sesuatu yang membangun. Sesuatu yang menyadarkanku dari kemudahan. Jadikan ini pelajaran saja, setiap bagian punya momen susah dan mudah. Dan kali ini, aku sedang berada di momen susahnya. Segala sesuatu akan menjadi lebih mudah ketika kita menghadapinya dengan pikiran yang dingin dan tindakan tenang.

Jumat, 04 AGUSTUS 2017
DAKI – kata yang menarik perhatianku di pagi buta. Saat bumi masih senyap dari riuh-riuh manusia yang sebagian besar masih terlelap. DAKI, kata bertuliskan huruf-huruf kapital dan kujumpai sedang bermukim dalam salah satu lembaran buku fiksi yang kubaca sebagai judul fragmennya. Daki yang dimaksud adalah daki-daki perasaan dan pikiran. Aku tertarik dengan sebuah kalimat dalam halaman berjudulkan DAKI tersebut “aku tak ingin mengotori pagi yang indah dengan daki-daki perasaan dan pikiran. Bisa saja kuawali pagi dengan perasaan benci, marah, iri atau dengki, tapi perasaan seperti itu akan memburukkan dan membusukkan perasaanku sepanjang hari”. Memang benar, pagi adalah bagian dari hari yang paling menentukan baik buruknya hari itu.  Jika pagimu dipenuhi hal-hal indah, maka sepanjang hari kau pun kan merasakan bahagia efek dari pagi yang indah. Dan sebaliknya, jika pagimu dipenuhi hak-hal buruk, maka itu akan berpengaruh besar terhadap perasaanmu sepanjang hari. Tentu aku tak ingin merusak hariku sendiri. Oleh karena itu, di pagi hari kan ku alirkan energi-energi positif untuk menarik hal-hal positif lainnya.

SABTU, 05 AGUSTUS 2017
SYUKUR – Pernahkah kau terbangun dan merasa banyak hal yang menyumpal pikiranmu? Seperti ada banyak hal yang merundung benakmu seketika, saat kau mulai tersadar dari lelapmu. Satu per satu hadir sambil menyeret sedikit demi sedikit kegundahan dan membuat pagimu terasa suram. Aku pun pernah. Yah,,, di pagi ini. Tak perlu kuceritakan hal-hal apa saja yang kumaksudkan. Cukup tahu bahwa hariku dimulai dengan sedikit penyesalan akan hari kemarin. Ku kedip-kedipkan mata berharap cahaya remang-remang sang fajar memberiku sebongkah semangat untuk memulai hari ini dengan rasa syukur. Yah, hanya dengan syukur akan hadirnya kesempatan hari ini, maka semua penyesalan akan hari kemarin dapat memudar hingga pagi yang indah tak perlu dipenuhi dengan penyesalan yang akan membusukkan hari ini.
Seperti perahu kecil yang terombang ambing ombak besar. Seperti itulah gambaran rasa syukur yang digodok oleh hal-hal negatif yang berkubang dalam pikiranku. Menimbang dan menimbang hingga banyak detik berlalu.
Memaafkan itu menyembuhkan, maka kuputuskan untuk memaafkan diri sendiri. Tak ada gunanya berkubang dalam penyesalan tanpa ada pergerakan. ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (Ar-Ra’d: 11)
Waktu tidak akan menungguku selesai meratapi penyesalan untuk kembali berjalan. Ia terus saja bergulir, bersama pergerakan mentari yang mengepakkan sayap sinarnya ke penjuru bumi. Kukumpulkan segenap semangat untuk memulai hari. Bergerak dan berpindah tempat untuk melakukan hal-hal lain. Membersihkan tempat tidur lalu memandangi langit pagi di luar rumah. Kunikmati dinginnya udara yang menyejukkan.
Selamat datang wahai hari ini, terimakasih karena bersedia mengikuti titah-Nya untuk memberiku kesempatan menjalani hidup. Selamat datang pula untuk hal-hal positif yang menghampiriku bersama hari ini dan selamat berkabung untuk hal-hal negatif karena telah menemukan orang yang salah. Aku takkan membuang banyak waktu untuk meratapimu. Karena aku punya obat yang paling ampuh untuk luka yang kau sebabkan. Akan ada rasa syukur menemaniku seberapa parah pun luka yang kau timbulkan, syukur akan membalutnya.

06 AGUSTUS 2017
OBAT – sebagian besar orang ketika mengalami gangguan kesehatan, maka mereka akan memilih meminum obat. Manusia sekarang berada pada zaman yang serba mudah. Mulai dari teknologi telekomunikasi hingga pada bidang kesehatan. Banyak kemudahan yang tersaji bagi orang-orang yang mau mengambilnya. Terlepas dari efek yang ditimbulkannya, kemudahan tersebut pada dasarnya memang menyenangkan. Mengajak manusia untuk tetap berada pada zona nyamannya. Hingga ketika zona aman itu mulai bersinggungan dengan zona tidak nyaman atau bahkan mengalami pergeseran, manusia pada umumnya mulai mengalami gangguan. Maka fenomena yang timbul kemudian, kita sebagai mahluk yang suka ketenangan akan berusaha menyeimbangkan efek dari singgungan tersebut. Berusaha untuk kembali ke titik normal. Walaupun sebenarnya ketidaknormalan tersebut merupakan bagian dari upaya mencapai titik normal, secara spontan. Contohnya ketika tubuh terserang sakit. Tubuh kita sebenarnya memberikan sinyal bahwa ia sedang diserang berbagai organisme penyebab penyakit atau patogen dan akhirnya mengundang peristiwa yang biasa kita sebut demam atau mungkin efek lain. Kita yang tidak mengerti akan berusaha menekan demam tersebut agar tidak timbul, padahal itu adalah respon yang menunjukan kenormalan sistem imun kita. Karena ketidaktahuan, kita meminum obat yang mungkin saja menekan demam namun menimbulkan banyak gangguan lain, kekurangan fungsi kerja organ-organ tubuh misalnya.
Aku akan menikmati sakit tanpa perlu meminum obat. Karena beberapa rasa sakit mungkin diciptakan untuk mengajarkan kita bagaimana rasanya sehat. Karena kita baru akan mengerti keberadaan sesuatu setelah sesuatu itu pergi meninggalkan kita. Dan kita sebagai mahluk yang berakal hendaknya mampu mengambil pelajaran.

07 AGUSTUS 2017
HAL BARU – Lagu Mars PKK menggema di aula Kecamatan Pallangga yang tercipta dari suara puluhan ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi ini. Aku dan seorang temanku juga bergabung di dalamnya. Tapi tidak, kami bukanlah ibu-ibu melainkan seorang perempuan yang belum terikat dalam ikatan pernikahan. Hanya kami berdualah yang belum menikah namun nama kami tercantum dalam SK anggota PKK. Lucu memang. Dimana jika berdasarkan aturan, kami seharusnya belum boleh bergabung dalam organisasi tersebut karena kami belum berkeluarga (baca menikah). Namun karena tuntutan pekerjaan yang kami lakoni, kami juga terseret dalam organisasi ini. Yah, apa boleh buat, pekerjaan membuat kami harus bertingkah lebih tua dari usia dan status kami.

Kami semua berkumpul untuk mengikuti serangkaian acara lomba memperingati HUT RI yang ke 72. Ada beragam bidang yang dilombakan pada hari ini yaitu lomba penyuluhan BKB, Pola Asuh Anak dan Lomba Penyuluhan Kesehatan. Aku termasuk salah satu peserta lomba tepatnya pada lomba penyuluhan pola asuh anak. Aku sendiri merasa tidak pantas mengikuti lomba ini karena memang belum punya anak bahkan belum menikah.

Pengalaman hari ini, banyak mata yang menyimpan rasa heran yang menggemaskan. Mata mereka seakan berbicara dan bertanya-tanya, mengapa aku mengikuti lomba seperti ini. Dengan muka yang tidak ada tampang ibu-ibunya sama sekali melainkan yang ada hanya wajah baby face (heheh) alias wajah-wajah ABG (baca sangat muda) bahkan beraninya mengikuti lomba pola asuh anak. Aku pun hanya bisa tertawa geli dalam hati melihat tatapan mereka. Masa bodoh. Biarkan mereka berkubang dalam pikirannya, aku tak perduli.

Yang aku tahu, aku hanya mencoba menyelamatkan nama desa yang kuwakili dari rasa malu karena tidak memiliki peserta yang siap untuk mengikuti lomba ini. Mau tidak mau harus bisa. Itulah prinsipku hari ini. Memang, mencoba hal yang baru akan ada dua kemungkinan besarnya: berhasil dengan sedikit kecacatan atau gagal dengan banyak hal memalukan. Kuambil tantangan ini. Sekaligus mengajarkanku untuk memasuki zona tidak nyamanku, berbicara di depan publik.

Mencoba hal baru akan mengajarkan kita untuk menapak langkah pada suasana baru. Suasana yang mungkin saja menitikkan banyak keringat dingin dan tremor serta kecemasan. Tak apalah, kunikmati suasana ini. Bukankah kita dapat mengenal angka dua setelah sebelumnya beranjak dari satu atau bahkan dari nol, titik yang tak berarti apa-apa. Tapi jika terus-terusan berkubang pada angka nol dapatkah kita mengenal angka-angka lain? 1, 2, 3 4 dan seterusnya. Kita dapat mengerti warna warni jika kita mau beranjak dari hitam atau pun putih. Semua ini tentang perubahan. Perubahan itulah yang akan terus bergerak hingga hanya perubahanlah yang tak akan pernah berubah.

SELASA, 08 AGUSTUS 2017
PRINSIPIL - Pernahkah kau merasa banyak hal yang buruk menimpamu membuatmu terjerembab dalam keputusasaan hidup, namun setelah itu kebahagiaan datang berturut-turut dan membuat harimu terasa sangat bersinar? Hari ini aku merasakannya. Tak perlu kuceritakan secara detail apa yang membuatku merasakan begitu bahagia. Yang aku tahu dan yang perlu kusampaikan adalah bahwa memang seperti kata orang-orang, hati itu bersifat bolak balik terkadang merasa sangat sedih, merasa bahwa tak ada seorang pun yang dapat mengerti dan merasa sangat sepi. Namun, situasi itu 180­­­0 dapat terbalik, berlawanan arah dari situasi sebelumnya. Yah kuakui itu. Oleh karena itu, dalam agama kita diajarkan sebuah do’a bagaimana menetapkan hati pada hal yang baik yakni pada diin (baca agama)  dan ketaatan yang benar.

Yaa muqollibal qulub, tsabbits qalbi ala diinik wa to’atik.
Do’a tersebut tentang kekonsistenan hati pada hal-hal yang bersifat prinsipil. Karena itu kita juga diajarkan menjadi orang yang mampu memegang prinsip, teguh pendirian atau disebut istiqamah.


JUMAT, 11 AGUSTUS 2017
SABAR MENUNGGU – Jarum detik di jam tanganku terasa berpindah dengan lambat. Detik, menit dan jam berganti dengan sangat lama membuatku merasakan tidak enaknya menunggu. Aku duduk di tepi kerumunan orang, di sebuah ruangan ber AC sesekali menengok jam tangan untuk memastikan waktu. Sejak pukul 09.30 – 12.00 waktuku terhabiskan hanya dengan duduk termenung dengan sesekali memainkan hp untuk mengusir kebosanan. Menunggu, menunggu dan menunggu seorang dosen dengan suatu keperluan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir dengan beragam kebutuhan akan kehadiran sosok dosen yang sedang ditunggu, maka lantas aku berusaha sesabar mungkin. Meskipun memang pada dasarnya aku bukanlah orang yang pandai menunggu. Menunggu merupakan salah satu pekerjaan yang cukup tidak menyenangkan apalagi tanpa melakukan apa-apa dan tanpa kepastian. Menunggu sesuatu yang tidak pasti seperti berusaha mencari semut hitam di tengah pekatnya malam. Hanya mengandalkan keberuntungan. Yah, begitulah pekerjaan menunggu menurutku. Namun menunggu juga memiliki sisi positif dengan mengasah kecerdasan emosional. Kata kuncinya SABAR.
Siang tadi, aku sudah mulai tidak sabar dan memutuskan untuk tidak menunggu. Kampong tengah juga mulai mengusik kosentrasiku, menuntut untuk diisi. Karena itu kuputuskan meninggalkan ruangan ber AC itu untuk makan di kantin. Setelah makan dan kembali, kujumpai dosen yang kumaksudkan. Namun ia sudah beranjak pergi. Lagi-lagi keberuntungan dan kesabaran saling beradu dan menunjukan padaku manakah yang lebih besar andilnya dalam peristiwa ini. Mungkin keberuntunganlah yang menang. Tapi, andaikata aku bersabar untuk menunggu lebih lama mungkin keberuntungan juga menghampiriku. One course today: be patient to wait!

SABTU – 26 Agustus 2017
RENCANA TUHAN JAUH LEBIH INDAH - Kuputar sebesar mungkin bagian gas motor agar dapat melanju kencang membawaku membelah udara dengan riuh angin yang terdengar jelas di telinga. Deretan perumahan dan pohon di tepi jalan silih berganti terlintas dalam pandangan mata dengan tatapan fokus ke depan. Ada banyak kekecewaan yang kuharapkan menguap bersama kencangnya angin sore tadi. Debu-debu yang beterbangan juga kuharap menemani angin untuk mengangkat banyak pikiran tidak mengenakkan dariku. Kuakui, aku cukup kecewa hari ini oleh hal-hal yang mungkin orang lain anggap sepele. Karena kita tidak sepenuhnya mengerti cara kerja hati. Suatu saat kau dapat merasa sangat senang oleh hal-hal sepele dan kadang kala pula kau dapat merasa cukup terpuruk dan seolah-olah tak ada orang lain yang lebih menderita darimu karena kesedihan yang bahkan hanya disebabkan oleh hal-hal yang sepele pula. Kau takkan sepenuhnya mengerti jika belum merasakannya.
Rentetan kekecewaan membuat punggungku terasa berat dan pandangan pikiranku seakan hanya dapat melihat hal-hal yang kuanggap buruk yang telah terjadi. Hingga riuh suara klakson dari banyak kendaraan mulai membuyarkanku dan menyadarkan eksistensiku di tengah kerumunan kendaraan bermotor. Ada beberapa truk yang berjejer di depanku sebelum akhirnya kudapati sebuah kalimat di bagian belakang salah satu mobil truk tersebut dan melamatinya dengan pandangan penasaran untuk membaca secara jelas kalimat tersebut. Semua akan bahagia pada waktunya – Rencana tuhan jauh lebih indah. Kalimat yang seakan dirancang khusus untukku saat itu, di detik itu. Aku kembali tersadarkan akan eksistensi perasaan yang mengejahwantakan kesedihan yang sedang kurasa. Benar, rencana tuhan jauh lebih indah dan kita akan bahagia pada waktunya. Bahagia dan sedih itu adalah hal yang wajar. Ini tentang cara kerja hati. Kekecewaan memang tak bisa terelakkan kala harapan berbenturan dengan kenyataan yang tidak sesuai. Tapi hati punya kendali untuk menjadikan sebuah kekecewaan menjadi hal yang tak berarti apa-apa. Pada sebuah keyakinan bahwa bahagia dan sedih memang datang silih berganti, kita hanya perlu memalingkan pandangan kala kita dihadapkan pada kekecewaan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mengutip sebuah lagu yang sering kudengarkan karena maknanya yang begitu dalam.
Beri dirimu sedikit waktu
Tak usah pura-pura tertawa
Ceritakanlah keluh kesahmu
Telingaku tak jenuh mendengar

Apa yang sedang engkau lamunkan
Mengapa terus berseduh sedang
Separah itu luka batinmu
Tak bosankah bawa masa lalu

Hidup ini indah
Bila kau mengikhlaskan yang harus dilepas
Kau terlalu agung
Tuk dikalahkan rasa sakit.

Sudahlah berhenti meratapi
Sesuatu yang takkan kembali
Kebahagiaan tak pernah pergi
Kau mungkin tengok arah yang salah
Sebab aku dan bumi mengasihimu

Belajarlah berjalan lagi
Walau langkahmu rapuh
Belajarlah percaya lagi
Kau tak pernah sendiri

Fiersa Besari – epilog


AHAD, 27 Agustus 2017
TULUStak ada yang lebih indah selain hati yang tulus dalam melakukan apa pun. Tak ada nikmat yang lebih menenangkan selain rasa tulus. Tulus dalam melakukan apa pun khususnya dalam hal memberi. Kenikmatan memberi akan lebih terasa dikala kita melakukannya secara tulus.

Motor yang ku kendarai melaju dengan cukup cepat hingga saat menjumpai lubang menganga di jalan, tanpa kendali penuh ku kurangi laju kendara secara tiba-tiba. Lalu kurasakan di bagian punggung terasa ada sesuatu yang menjorok ke depan dan menekan punggungku. Seketika aku tersadar jika di jok motorku selain aku ada pula nenek. Yah, sore tadi aku mengantar nenek untuk mengukur baju. Aku membawa nenek ke salah satu tukang jahit yang ada di desa kami. Setelah tiba di rumah yang kami maksudkan, dengan sedikit kecewaan kami kembali pulang karena tukang jahit yang kami datangi ternyata sedang tidak berada di rumah. Di perjalanan pulang, nenek mendadak meminta berhenti di depan sebuat rumah kecil dengan atap seng dan separuhnya lagi beratapkan daun rumbia. Aku sudah tidak asing dengan rumah itu. Mm, rumah saudara tiri nenek. Saat kami mengucapkan salam, kami disambut oleh seorang wanita yang usianya jauh lebih tua dariku. Senyumnya hangat dengan sapaan yang bukan basa basi. Kami lalu diajak masuk dan dipersilahkan duduk. Bukan pada sofa yang empuk melainkan kursi plastik sederhana. Dengan cekatan dan rasa gembira karena kedatangan tamu, sang empunya rumah lalu menuju ke dapur untuk mengambilkan minum dan dua toples kue kering. Sungguh penghormatan kepada tamu yang tinggi. Sungguh, kali ini aku mendapat pelajaran baru.
Selama berbincang cukup lama dengan nenek, sang empunya rumah sering kali meminta kami untuk memakan kue kering yang disuguhkan dengan wajah sumringan. bahkan saat ingin pulang, kami ditawari untuk membawa kue dalam salah satu toples yang ada. Kami sungguh sangat memberatkan. Bahkan dari perbincangan kami tadi, kue yang disuguhkan tidak ada duanya. Hanya itu yang pemilik rumah punya. Bahkan dengan makanan sedikit itu ia ingin berbagi dengan tatapan penuh ketulusan. Sungguh berbeda dengan orang kebanyakan juga dengan diriku yang sesakali merasa enggan memberikan apa yang aku punya. Hari ini aku memperoleh pelajaran besar dari orang-orang yang dianggap kecil oleh kebanyakn orang. Bahkan hati mereka lebih luas dalam kesempitan yang ada. Terima kasih untuk pelajaran hari ini. Pelajaran besar melalui hal kecil yang akan selalu kuingat.

Senin, 28 Agustus 2017
KENANGAN – guliran air terasa membentuk parit kecil di pipiku. Perasaan ini seperti luka yang masih basah lalu tertiup angin yang berhembus cukup kencang. Ada dingin dan perih yang syahdu. Kulamati dengan pandang setiap sudut ruangan. Beragam memori seakan terpuntir kembali dalam tatapan pikiranku, mundur ke waktu silam, beberapa tahun yang lalu. Menikmati suasana ruangan demi ruangan yang ada membuatku merasakan rindu yang amat dalam pada sesosok yang lebih dulu melalui titian hidup ini ke dunia lain. Dunia yang tak terjamah lagi oleh indera selain indera batin. Kali ini aku kembali membuka sebuah sudut dalam ruang hati yang ditempati oleh orang-orang yang mampu menjamahnya. Yah hanya orang-orang tertentu yang mampu bertahan di dalamnya meski dihadapkan pada waktu yang berjarak.

Samar-samar kenangan itu kembali terputar. Ku rasakan suasana yang penuh dengan rasa damai, terdengar suara khas yang begitu ku rindukan, ku bayangkan sosok itu dengan tingkahnya yang lucu, penyayang namun penuh dengan ketegasan. Sosok yang memberiku cukup banyak pengajaran. Sosok yang bukan guru namun mampu memberikan nilai kehidupan yang membekas bahkan hingga saat ini.

Ya tuhanku, aku sungguh rindu dengannya. Maka biarkan kali ini aku menikmati sedihku dalam kenangan tentangnya. Aku rindu dengan sikap keras kepalanya, dengan teguh pendiriannya, bahkan dengan sikapnya kala dihadapkan pada makanan kesukaannya ‘pisang goreng’ yang dengan lahap ia habiskan. Bukannya ingin berkubang dalam masa lalu, tapi bukankah rindu juga diciptakan dengan tujuan yang jelas walaupun sudah tentu bahwa rindu akan membawa kita pada masa lalu. Dengan rindu, maka yang ada menjadi sangat berarti karena rindu mengajarkan bahwa ketiadaan itu sungguh tidak mengenakkan. Maka biarkan rinduku kali ini menemui muaranya. Biarkan rinduku mengalunkan do’a kepada-Mu yaa rabb. Jaga ia di alamnya, luaskanlah tempatnya, ampunilah dosa-dosanya dan sikapnya yang keras kepala untuk istiqamah walaupun pada pendirian yang salah. Ampunilah ia wahai rabbku. Engkaulah yang maha mengetahui dan semua ini sudah menjadi garis hidupnya. Sebagai bagian dari keturunannya maka aku hanya bisa memohon. Rabbigfirlii wa liwaalidayya warhamhuu kamaa rabbayanii shogira. Aamiin Allahumma aamiin.

Selasa, 29 Agustus 2017
RAMA TAMAH – angin sore berhembus cukup kencang menerbangkan kepulan debu ke berbagai arah. Di tepi sebuah lapangan aku dan banyak rekan kerja sedang sibuk membersihkan tepi lapangan serta sebagian lagi menyusun kursi tamu untuk penutup acara peringatan HUT RI yang ke-72. Matahari yang awalnya terik perlahan cahayanya memudar oleh senja yang menjingga hingga pada akhirnya digiring kepada kegelapan. Tak terasa, suara azan magrib pun berkumandang menandakan kami harus bergegas lalu istirahat untuk sholat dan juga sebagai pertanda bahwa acara yang kami persiapkan segera dimulai tepat setelah sholat isya.
* * *
Selepas sholat isya, aku kemudian bergegas menuju tepi lapangan untuk menyiapkan makanan para tamu. Satu persatu warga berdatangan adapula yang datang dari berbagai sudut pandang dengan gerombolannya, mungkin dengan sanak saudara. Warga yang datang berasal dari berbagai kalangan mulai dari lansia, paruh baya hingga anak-anak bahkan bayi yang mungkin masih berumur 7 bulanan. Di belakang panggung, panitia yang terdiri atas anggota karang taruna sangat sibuk dengan persiapan mereka dengan peran masing-masing sementara di depan panggung warga dan tamu undangan yang datang sudah cukup lama mulai memperlihatkan raut gelisah dan mungkin jika digambarkan dengan kata-kata mereka mengatakan “mengapa acara belum dimulai”, “lama sekali mulainya” dan lain-lain. Setelah melaksanakan tugas, aku pun mulai berbaur dengan warga dan mengambil tempat duduk di bagian belakang tanpa seorang pun yang mengenali.
Setelah cukup lama, akhirnya MC keluar dan mulai membuka acara. Ada banyak agenda acara malam ini mulai dari sambutan-sambutan hingga tarian serta penampilan musik, tak ketinggalan pengumuman pemenang berbagai lomba acara 17-an. Berbagai penampilan disambut meriah oleh penonton. Seperti tradisi di desa lain, saat ada penampilan seni seperti tari atau music maka akan banyak penonton yang menyawer apatalagi tamu undangan yang terdiri dari pejabat desa, kecamatan dan kabupaten. Kebiasaan yang menurutku menjadikan objek saweran menjadi objek yang memprihatinkan.

Rabu, 30 Agustus 2017
Lion - Gemintang di luar sana berkedip dengan cahaya redup. Awan-awan membentuk formasi megah dengan gumpalan besarnya menyabotase cahaya rembulan hingga hanya bagian kecil langit yang tersaput cahaya. Malam dengan langit yang cukup sepi suhu udara cukup panas. Di dalam ruangan persegi panjang, aku merasa bingung tak tahu harus melakukan apa. Tiba-tiba teringat sebuah film yang baru kusimpan di memori telfon. Dengan dorongan rasa penasaran akan film itu aku pun menontonnya dengan terlebih dahulu menyiapkan atribut pelengkap yakni headset dan tak lupa makanan ringan. Heheh
Lion adalah judul dari film itu. Film yang diangkat dari kisah nyata. Dari awal hingga film hampir berakhir, aku tak tau alasan pembuat film memberinya judul Lion. Tunggu dulu, biar kuceritakan isi filmnya. Well, film ini bercerita tentang seorang anak dari pedesaan miskin di India. Anak ini tinggal bersama ibu, seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Hidup mereka sangatlah memprihatikan. Untuk mendapatkan makanan, anak ini yang bernama Saroo serta kakaknya yang bernama Guddu harus bekerja keras. Tak jarang mereka mengumpulkan uang dari hasil mencuri batu bara di kereta api pengangkut batu bara tentu saja dengan resiko jatuh dari kereta. Ibu mereka hanyalah seorang pengumpul batu bara dengan upah yang sangat minim. Kehidupan mereka dilalui dengan serba kekurangan namun mereka tetap bahagia karena saling memiliki satu sama lain. Sampai pada suatu malam Guddu terbangun untuk bekerja tengah malam di stasiun kereta sebagai pengangkut jerami atau barang-barang penumpang. Saroo yang menyadari hal itu memaksa untuk ikut membantu sang kakak. Dengan sangat berat Guddu memperbolehkannya. Namun setiba di stasiun, Saroo hanya tertidur dan tak mau dibangunkan. Dengan cukup terpaksa, Guddu meninggalkan sang adik di sebuah kursi panjang untuk bekerja dan memintanya untuk menunggu hingga ia kembali. Jam demi jam berlalu, Guddu tak kunjung kembali bahkan hingga saroo terbangun. Didapatinya stasiun kereta sudah sepi dari lalu lalang penumpang. Tak ada seorang pun di sana dan Saroo mencari Guddu di dalam kereta. Tanpa sengaja, Saroo terlelap di dalam kereta dan setelah terbangun ia mendapati kereta sudah melaju dengan pemandangan sekeliling yang asing baginya. Itulah awal kehidupan saroo yang begitu berat di kota lain, jauh dari tempat tinggalnya.
Takdir mempertemukannya dengan sebuah keluarga Australia yang mengadopsinya setelah tinggal cukup lama di panti sosial India yang sangat kumuh dan kehidupannya berubah 1800. Tak ada lagi kesusahan hidup. Tak ada lagi kerja keras seperti dulu hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Ia mulai lupa dengan keluarganya di India. Setelah berselang 25 tahun. Rasa bersalah mulai menghinggapinya. Bayangan keluarga kandungnya mulai mengisi hari demi hari yang ia lalui. Banyak upaya yang ia lakukan untuk bisa menemukan tempat tinggalnya di India tanpa nama kota yang bisa ia ingat dengan jelas. Namun, hasil tidak pernah menghianati proses. Dengan usaha yang cukup lama, akhirnya ia mampu menemukan lokasi tempat tinggalnya dengan bantuan Google Earth, hanya dengan menghitung jarak dari waktu tempuh sebuah kereta api selama dua hari lalu menjadikan ibukota India sebagai patokan, lokasi panti soalnya dulu. Setelah menemukan titik kordinat ia lalu menelusuri keberadaan stasiun kereta api di sekitar lokasi ordinat. Dan walhasil setelah melakukan pencarian di India, saroo mampu menemukan tempat tinggalnya dan bertemu dengan ibu serta adik perempuannya. Dan Guddu, tertabrak kereta api tepat pada malam dimana kereta api membawa Saroo meninggalkan kota asalnya, Ganeshta Lai. Dan sebagai penutup film, dijelaskan bahwa Saroo adalah Bahasa India dari Singa/Lion.
Rencana tuhan jauh lebih rapi dari apa yang kita duga dan apa yang kita pikirkan. Tuhan adalah sang maha desainer kehidupan setiap manusia yang jumlahnya sangat banyak. Saat hati dihujani oleh prasangka-prasangka buruk akan skenario tuhan, percayalah bahwa tuhan itu maha adil. Apa yang telah ditetapkan itulah yang terbaik. Maka berjalanlah pada garis yang telah ditentukan dengan mengerahkan segala kemampuan yang kita miliki agar mampu mengemban tugas kehidupan dengan baik. Wassalam…





Sumber gambar:
http://lazuardi.id/2017/03/15/mengais-rejeki-lewat-menulis-mau/

Pengertian, Peranan, Struktur dan Reproduksi Virus




Kalian sudah belajar mengenai mahluk hidup dan macamnya bukan? Apakah kalian sering mendengar virus? Virus masih menjadi perdebatan apakah digolongkan sebagai mahluk hidup atau tidak. Loh kok begitu? Yah, karena virus hanya dapat melakukan aktivitas hidup jika berada pada mahluk hidup sehingga virus disebut pula parasit obligat. kata "parasit obligat" menunjukan bahwa virus tak akan dapat 'hidup' jika tidak berada dalam tubuh mahluk hidup. Lalu apa yang dimaksud virus itu? Yuk kita simak uraian berikut ini.

PENGERTIAN VIRUS

Virus berasal dari bahasa Latin 'Virion' yang berarti racun. Virus adalah entitas nonseluler yang hanya terdiri atas protein dan materi genetik. Kata nonseluler menunjukan bahwa virus tidak berbentuk seperti sel pada umumnya, hanya terdiri atas protein dan materi genetik. Materi genetik inilah yang membuat sebagian ahli menggolongkannya sebagai mahluk hidup. Kata 'hidup' bagi virus berbeda dengan mahluk hidup lainnya. Kata 'hidup' untuk virus berarti adanya kemampuan untuk merangkai materi genetik di dalam tubuh inang untuk memperbanyak diri, menginfeksi sel inangnya serta menghasilkan senyawa tertentu.

Untuk memahami dengan lebih mendalam mengenai virus genetis, yuk kita simak mengenai struktur virus berikut ini:

STRUKTUR VIRUS



Virus memiliki banyak jenis dengan beragam bentuk, ada yang Isohedral, Filamentous dan Head-Tail. Kita akan membahas bentuk yang umum yakni bentuk bakteriofage atau T-4 (virus yang menginfeksi bakteri) yang berbentuk Head-Tail atau Kepala-Ekor. Sesuai namanya, bakteri ini terdiri atas kepala dan ekor.

Kepala bakteriofage tersusun atas materi genetik yang diselubungi oleh kapsid yang tersusun atas protein. Satu unit penyusun kapsid disebut kapsomer. Fungsi kapsid adalah untuk memberi bentuk virus dan sebagai pelindung virus dari kondisi lingkungan yang merugikan. Materi genetik pada virus hanya terdiri atas DNA atau RNA saja. Materi genetik inilah yang membawa kode-kode genetik pembawa sifat virus. Berdasarkan materi genetik yang dikandungnya, virus dgolongkan menjadi virus DNA (contohnya bakteriofage dan virus cacar) dan virus RNA (Virus influenza, hiv DAN H5N1). 

Ekor virus merupakan alat yang digunakan untuk menempel pada inangnya. ekor virus terdiri atas tubus yang bersumbat dilengkapi benang atau serabut. Virus yang menginfeksi sel eukariotik tidak mempunyai ekor.

Ukuran virus lebih kecil dari bakteri dan mahluk hidup lainnya. Ukuran virus berada dalam ukuran nanometer. Dimana 1 nanometer itu sama dengan 1/1000.000.000 meter atau 0,000000001 meter. Kebayang bagaimana kecilnya? Kisaran ukuran tubuh virus normalnya adalah 20-450 nm. Akan tetapi, virus terbesar pernah ditemukan berdiameter 500 nm dan panjang 700-1000 nm. Kalian tahu bagaimana cara mengukur virus? Para peneliti  mengukurnya menggunakan metode sentrifugasi ultra high speed (kecepatan sangat tinggi).

REPRODUKSI VIRUS



Virus bereproduksi dengan dua daur yakni daur lisogenik dan daur litik. Pada daur lisogenik, virus hanya menginfeksi inangnya dan memperbanyak diri tanpa membuat tubuh inang mengalami lisis (hancur) sedangkan pada daur litik, virus menginfeksi inang, memperbanyak diri dan menghacurkan tubuh inangnya. 

PERAN VIRUS

Peran Virus bagi kehidupan secara umum dibagi menjadi tiga yaitu:
·     Peran positif (manfaat Virus) bagi manusia yaitu virus dijadikan vaksin untuk mencegah suatu penyakit ilmuan membuat vaksin dari virus yang dilemahkan atau dari virus mati. Virus juga dapat digunakan untuk membasmi hama secara biologis.
·       Peran negatif (kerugian dari adanya virus):
Ø  Virus yang menyerang tumbuhan, contohnya virus tungro menyebabkan penyakit kerdil pada padi, virus tristeza menyebabkan penyakit tristeza pada jeruk, TMV (Tobacco mosaic virus) menyebabkan penyakit mosaic pada tembakau.
Ø  Virus yang menyerang hewan, contohnya virus rabies menyerang susunan saraf pusat hewan dan manusia, virus New castle disease (NCD)/tetelo menyerang saluran pernapasan unggas dan virus foot and mouth disease menyebabkan penyakit mulut dan kaki pada sapi dan kerbau.

Virus yang menyerang manusia, contohnya virus poliomyelitis menyebabkan penyakit polio, virus influenza menyebabkan penyakit influenza, virus varicella menyebabkan cacar air, virus rabies menyebabkan penyakit rabies, virus eubella menyebabkan penyakit campak Jerman. Virus Hepatitis menyebabkan penyakit hepatitis dan virus ebola menyebabkan penyakit ebola.

Agar sobat dapat lebih memahami mengenai Peran dan reproduksi virus, silahkan simak uraian lengkapnya pada powerpoint Peran dan Reproduksi virus di sini.

Sekian artikel kali ini, semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan sobat sekalian mengenai materi yang terdapat di dalamnya.

Pola Hidup Sehat ala Rasulullah





Jika ada manusia sempurna, maka manusia yang paling sempurna adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Kesempurnaan pribadi Rasulullah bukan hanya dalam penampilan luar saja, tetapi juga beliau sempurna dalam fisik, spiritual dan ahlaknya. Karena itulah, Allah Subhanahu wa ta'ala menjadikannya sebagai teladan bagi kehidupan manusia, di dalam firmannya;“sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”  (Q.S al-ahzab : 21).

Jika menginginkan muslim yang kuat hanya dapat diperoleh dengan kondisi fisik yang kuat pula. Kesehatan adalah dasar yang sangat penting untuk terwujudnya kekuatan seorang mukmin. Rasulullah telah meneladankan pola hidup sehat. Nah, pertanyaannya, bagaimana pola hidup sehat yang diteladankan oleh Rasulullah?

Pola makan sehat ala Rasulullah

‘Tiada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga) maka jika ia tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk bernapasnya” (HR. Ahmad dan Ibnu Maja)

Makan terlalu banyak dapat memberatkan kerja sistem pencernaan, dapat membuat pH tubuh menjadi asam, bila tubuh tidak bisa mengatasi hal tersebut, maka akan terjadi penumpukan karbondioksida yang mengakibatkan sel-sel tubuh akan rusak. Ketika lambung dipenuhi oleh makanan, maka terjadi peningkatan aliran darah ke lambung untuk membawa oksigen, menyebabkan oksigen di bagian tubuh lain berkurang.

Dari abu Qatadah , bahwa Nabi saw melarang menghembuskan nafas di dalam bejana (ketika minum)”  (HR. Bukhari dan Muslim). Sahabat, orang yang bernafas mengeluarkan CO2, dan jika zat ini bersenyawa dengan air (H2O), maka akan terbentuk H2CO3 yang merupakan senyawa berbahaya bagi tubuh. Hal ini juga akan terjadi pada saat kita meniup makanan panas.

Berkaitan dengan adab makan, Rasulullah juga menganjurkan kita untuk makan dan minum dengan duduk. Air yang masuk akan disaring oleh sfringer, yakni suatu struktur berotot yang bisa membuka sehingga air seni bisa lewat dan menutup. Sehingga air yang kita minum akan disalurkan ke ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah, jika kita minum berdiri, air yang kita minum tidak disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih yang menyebabkan terjadinya pengendapan di saluran ureter karena banyak limbah yang tersisa, tidak terangkut bersama air. Iniah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “minum sambil berdiri akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dalam organ-organ pencernaan yang jika dilakukan secara berulang-ulang akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus. Penyakit ini disebut usus turun”

Makanan dan minuman yang terbuka sangat muda terkena debu ataupun dimasuki binatang pembawa kuman seperti lalat, cicak dan sebagainya. Berkaitan dengan ini, Bagaimana penjelasan hadist ini menurut sudut pandang ilmiah ??

Rasulullah mengajarkan, “jika ada seekor lalat yang terjatuh pada minuman kalian maka tenggelamkan, kemudian angkatlah (lalat itu dari minuman tersebut), karena pada satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat” (HR Bukhari).
Lalat hidup di sampah dan limbah organik yang mengandung sejumlah besar bakteri, virus dan berbagai mikroba lainnya serta kuman. Allah yang maha kuasa, memberikan lalat kemampuan untuk membawa kuman pada salah satu sayapnya dan obat penawar pada sayap yang lain. Jika tidak, tentu spesies lalat sudah pasti binasa karena terkena kuman yang dibawanya bukan? Tapi kenyataannya masih banyak spesies lalat yang bertahan hingga saat ini. Beberapa orang mungkin tidak senang dengan ide membenamkan lalat dalam minumannya. Namun, ini bisa diterapkan dalam kasus-kasus darurat, ketika hanya memliki sedikit air.

Bagaimana Pola Tidur yang Baik ??

Tidur merupakan perkara yang sering dillakukan oleh manusia. Dari tidur, kita bisa merehatkan sejenak pemikiran dari sekelumit aktivitas yang dilakukan. Namun terkadang kita sering mengabaikan posisi tidur yang dicontohkan Rasulullah. Lantas bagaimana posisi tidur sahabat sekalian ? apakah sudah benar ??

“Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah posisi tidur yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pada saat seseorang tidur dalam posisi ini, jantung hanya terbebani oleh paru-paru kiri yang berukuran lebih kecil dari paru-paru kanan. Juga menempatkan hati pada posisi yang stabil. Selain itu, ini juga akan memudahkan proses pencernaan. Lambung yang terletak di bagian kiri rongga perut, akan lebih mudah memasukkan isinya ke dalam usus halus di bawahnya saat tubuh berada posisi ini. Menurut penelitian, makanan akan mampu dicerna oleh usus dalam 2,5 sampai 4,5 jam. Sedangkan pada posisi tidur yang lain makanan baru akan selesai dicerna setelah 5 sampai 8 jam.

Kapan saat tepat kita tidur ? Jika mengacu pada sistem kerja organ vital tubuh, maka tidur yang baik adalah pada awal malam, sekitar jam 8 malam. Sebab empedu aktif bekerja antara jam 11 malam hingga jam 1 dini hari, sementara hati mulai aktif bekerja mulai jam 1 malam. Apabila pada jam-jam tersebut kita masih belum tidur, apalagi masih asyik makan-makan, maka sebenarnya kita telah merusak alur tubuh kita sendiri.
Sahabat, pola hidup yang sehat tentunya tidak hanya dengan membiasakan diri melakukan makan dan tidur yang teratur, tetapi juga dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar agar tidak dihinggapi oleh vektor- vektor penyakit serta rutin berolahraga.



Wallahu a’lam bi showab